Da hari ke 27 da kita berpuasa..10 malam terakhir mengejar malam lailatulqadar..tinggal lagi 3 hari je kita nak menghayati bulan ramadhan dan mencari lailatulqadar yang sama dengan seribu bulan n tiada di bulan-bulan lain..Saya nak share keutamaan malam Lailatulqadar..jom tengok!!
Cukuplah untuk mengetahui tingginya kedudukan Lailatul Qadar dengan mengetahui
bahawasanya malam itu lebih baik dari seribu bulan, Allah berfirman,
[1] Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaan. [2]
Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? [3] Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. [4] Pada
malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya
untuk mengatur segala urusan. [5] Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit
fajar. (Al Qadar: 1 - 5)
Dan pada malam itu dijelaskan segala urusan yang
penuh hikmah,
[3]Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam
yang diberkati dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. [4] Pada
malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, [5] (iaitu) urusan yang
besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, [6]
sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui. (Ad Dukhoon: 3 - 6)
2. Waktunya
Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bahwa malam tersebut terjadi pada malam tanggal 21, 23, 25, 27, 29 dan
akhir malam bulan Ramadhan. (Pendapat-pendapat yang ada dalam masalah ini
berbeza-beza, Imam Al Iraqi telah mengarang satu risalah khusus diberi judul
Syarh Shadr bidzkri Lailatul Qadr, membawakan perkatan para ulama dalam masalah
ini)
Imam Syafi’i berkata, "Menurut pemahamanku,
wallahu a’lam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab sesuai yang
ditanyakan, ketika ditanyakan kepada beliau, "Apakah kami mencarinya di
malam hari?", beliau menjawab, "Carilah di malam
tersebut."(Sebagaimana dinukil al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 6/388)
Pendapat yang paling kuat, terjadinya malam
Lailatul Qadr itu pada malam terakhir bulan Ramadhan, berdasarkan hadith
‘Aisyah radiyallahu ‘anha, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam beri’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan dan beliau bersabda,
(yang artinya) "Carilah malam Lailatur Qadr di (malam ganjil) pada sepuluh
hari terakhir bulan Ramadhan." (HR Bukhari 4/255 dan Muslim 1169)
Jika seseorang merasa lemah atau tidak mampu,
janganlah sampai terluput dari tujuh hari terakhir, kerana riwayat Ibnu Umar
(dia berkata): Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Carilah
di sepuluh hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan sampai terluput tujuh
hari sisanya." (HR Bukhari 4/221 dan Muslim 1165).
Ini mentafsirkan sabdanya, "Aku melihat mimpi
kalian telah terjadi, maka barangsiapa ingin mencarinya, carilah pada tujuh
hari yang terakhir." (Lihat maraji’ diatas).
Telah diketahui dalam sunnah, pemberitahuan ini ada
kerana perdebatan para sahabat. Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia
berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada malam Lailatul Qadr,
ada dua orang sahabat berdebat, beliau bersabda, "Aku keluar untuk
mengkhabarkan kepada kalian tentang malam Laitul Qadar, tetapi fulan dan fulan
(dua orang) berdebat hingga diangkat tidak bisa lagi diketahui bila Lailatul
Qadr terjadi), semoga ini lebih baik bagi kalian, maka carilah pada malam 29,
27, 25 (dan dalam riwayat lain: tujuh, sembilan, lima)." (HR Bukhari
4/232)
Telah banyak hadith yang mengisyaratkan bahwa malam
Lailatul Qadar itu pada sepuluh hari terakhir, yang lainnya menegaskan di malam
ganjil sepuluh hari terakhir. Hadith yang pertama sifatnya umum, sedang hadith
kedua adalah khusus, maka riwayat yang khusus lebih diutamakan daripada yang
umum, dan telah banyak hadith yang lebih menerangkan bahawa malam Lailatul
Qadar itu ada pada tujuh hari terakhir bulan Ramadhan, tetapi ini dibatasi
kalau tidak mampu dan lemah, tidak ada masalah. Maka dengan ini, sesuailah
hadith-hadith tersebut, tidak saling bertentangan, bahkan bersatu tidak
terpisahkan.
Kesimpulannya, jika seseorang muslim mencari malam
Lailatul Qadar, carilah pada malam ganjil sepuluh hari terakhir, 21, 23, 25, 27
dan 29. Kalau lemah dan tidak mampu mencari pada sepuluh hari terakhir, maka
carilah pada malam ganjil tujuh hari terakhir yaitu 25, 27 dan 29. Wallahu
a’lam.
Paling benarnya pendapat Lailatul Qadr adalah pada
tanggal ganjil 10 hari terakhir pada bulan Ramadhan, yang menunjukkan hal ini
adalah hadith Aisyah, ia berkata: "Adalah Rasulullah beri’tikaf pada 10
terakhir pada bulan Ramadhan dan berkata, "Carilah malam Lailatul Qadr
pada malam ganjil 10 terakhir bulan Ramadhan."
3. Bagaimana Mencari Malam Lailatul Qadar
Sesungguhnya malam yang diberkati ini, barangsiapa
yang diharamkan untuk mendapatkannya, maka sungguh telah diharamkan seluruh
kebaikan (baginya). Dan tidaklah diharamkan kebaikan itu, melainkan (bagi)
orang yang diharamkan (untuk mendapatkannya). Oleh kerana itu, dianjurkan bagi
muslimin (agar) bersemangat dalam berbuat ketaatan kepada Allah untuk
menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan mengharapkan
pahala-Nya yang besar, jika (telah) berbuat demikian (maka) akan diampuni Allah
dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
"Barangsiapa berdiri (solat) pada malam Lailatul Qadar dengan penuh
keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah
lalu." (HR Bukhari 4/217 dan Muslim 759)
Disunnahkan untuk memperbanyak do’a pada malam
tersebut. Telah diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, (dia)
berkata, "Aku bertanya, Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apa
pendapatmu jika aku tahu kapan malam Lailatul Qadar (terjadi), apa yang harus
aku ucapkan?" Beliau menjawab, "Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul
‘afwa fa’fu ‘annii. Ya Allah, Engkau Maha Pengampun dan mencintai orang yang
meminta ampunan, maka ampunilah aku." (HR Tirmidzi (3760), Ibnu Majah
(3850), dari Aisyah, sanadnya shahih. Lihat syarahnya Bughyatul Insan fi
Wadhaifi Ramadhan, halaman 55-57, karya Ibnu Rajab al Hanbali)
Semoga Allah memberkati dan memberi taufiq kepada
kita untuk mentaati-Nya dan kita telah mengetahui bagaimana keadaan malam
Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk mendirikan solat) pada
sepuluh malam hari terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita,
perintahkan kepada isterimu dan keluargamu untuk itu dan perbanyaklah amalan
ketaatan.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, "Adalah
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila masuk pada sepuluh hari
(terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencangkan kainnya (menjauhi wanita yaitu
isteri-isterinya kerana ibadah, menyingsingkan badan untuk mencari Lailatul
Qadar), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya." (HR Bukhari
4/233 dan Muslim 1174)
Juga dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, (dia
berkata), "Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir),
yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya." (HR Muslim
1174)
4. Tanda-tandanya
Ketahuilah hamba yang taat, mudah-mudahan Allah
menguatkanmu dengan ruh dari-Nya dan membantu dengan pertolongan-Nya,
sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan paginya
malam Lailatul Qadar agar seorang Muslim mengetahuinya.
Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "Pagi hari malam
Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar menyilaukan, seperti bejana hingga
meninggi." (HR Muslim 762)
Dari Abu Hurairah, ia berkata: Kami menyebutkan
malam Lailatul Qadar di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau
bersabda, "Siapa di antara kalian yang ingat ketika terbit bulan, seperti
syiqi jafnah." (HR Muslim 1170. Perkataannya "Syiqi Jafnah",
syiq ertinya setengah, jafnah ertinya bejana. Al Qadli ‘Iyadh berkata,
"Dalam hadith ini ada isyarat bahwa malam Lailatul Qadar hanya terjadi di
akhir bulan, kerana bulan tidak akan seperti demikian ketika terbit kecuali di
akhir-akhir bulan.")
Dan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, "(Malam) Lailatul Qadar
adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, (dan)
keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan." (HR
Thayalisi (349), Ibnu Khuzaimah (3/231), Bazzar (1/486), sanadnya hasan)